PENUTURNEWS.ID – Penggerebekan yang semestinya berujung pada penangkapan justru berubah menjadi adegan kejar-kejaran maut. Mobil polisi dibakar, aparat diburu sampai ke kawasan pulau, hingga tiga anggota polisi menjadi korban keganasan para pelaku.
Gambaran brutal itu kembali diperagakan dalam rekonstruksi perkara penyerangan anggota Satresnarkoba Polres Katingan yang digelar Polda Kalimantan Tengah di Mapolda Kalteng, Senin (31/8/2026) sore.
Puluhan adegan diperagakan. Mulai dari polisi mengepung rumah yang diduga menjadi lokasi pesta sabu dan judi online, perlawanan menggunakan parang, kendaraan operasional yang dirusak dan dibakar, hingga pengejaran polisi ke tengah sungai dan kawasan pulau.
Yang awalnya penggerebekan, berubah menjadi polisi yang justru diburu.
Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan melalui Kabid Humas Kombes Pol Budi Rachmat membenarkan pelaksanaan rekonstruksi tersebut.
Rekonstruksi dilakukan untuk mencocokkan keterangan para saksi, tersangka, serta fakta yang ditemukan penyidik dengan peran masing-masing orang yang terlibat.
Penggerebekan Berubah Jadi Kekacauan
Peristiwa bermula ketika sejumlah tersangka, yakni A, R, D, I dan H, disebut sedang bermain judi online sembari mengonsumsi sabu di dapur rumah milik Bu Indem/Bio. Sementara B dan D berada di dalam kamar.
Tim Satresnarkoba Polres Katingan yang dipimpin AKP Batu Bara bersama delapan anggota kemudian tiba menggunakan dua kendaraan. Rumah dikepung setelah panggilan petugas tidak mendapat respons.
Pintu akhirnya didobrak.
Saat B diamankan, R tiba-tiba keluar membawa senjata tajam. R berhasil diringkus Brigpol Ferdy. Namun situasi mendadak berubah ketika (Alm) T datang membawa parang dan menyerang AKP Batu Bara.
Aipda Yudhie P yang berusaha menangkis serangan ikut terkena bacokan pada tangan kanan.
Melihat situasi semakin tidak terkendali, AKP Batu Bara memerintahkan seluruh anggota mundur.
Namun T rupanya belum selesai.
Ia terus mengejar dan kembali mengayunkan parang hingga mengenai bagian belakang kepala Aipda Yudhie.
Aiptu Sumaryanto sempat melepaskan tembakan peringatan. Karena peringatan tidak diindahkan, polisi akhirnya mengambil tindakan tegas dan terukur. T tertembak dan meninggal dunia di lokasi.
Tembakan Meledak, Warga Berdatangan, Polisi Menyelamatkan Diri
Suara tembakan justru membuat suasana semakin kacau. Warga berdatangan ke lokasi.
AKP Batu Bara memilih menyelamatkan diri melalui pintu belakang dan bersembunyi di semak-semak. Sementara delapan anggota lainnya berlari menuju sungai hingga ke kawasan pulau.
Di daratan, situasinya tak kalah panas.
Dua mobil operasional polisi dirusak massa menggunakan kayu dan batu. AY bahkan disebut mengambil bensin lalu membakar kendaraan petugas.
Mobil polisi hangus, pengejaran pun berlanjut.
B kemudian disebut memprovokasi rekan-rekannya untuk mengejar anggota polisi ke pulau. Parang disiapkan, senapan angin dibawa.
Dari pinggir sungai, B, P dan R disebut menembakkan senapan angin ke arah pulau. N membantu menerangi kawasan tersebut menggunakan senter telepon seluler.
Sebagian pelaku bahkan menyeberang menggunakan perahu milik Kades Tumbang Kalemei yang berada di lanting.
Para polisi yang terdesak berusaha menyelamatkan diri dengan berenang mengikuti arus sungai.
Namun kondisi Aipda Yudhie sudah melemah akibat luka yang dideritanya.
Ia memilih menepi ke tumpukan pasir atau ambuhan.
Di situlah situasi kembali berubah menjadi tragis.
Sebelum mencapai tepian, AR disebut terjun ke air dan membacok kepala korban. Setelah berada di atas tumpukan pasir, Yudhie kembali dihujani sabetan parang hingga akhirnya meninggal dunia.
Jasad korban kemudian diseret P menuju lanting.
Belum Selesai, Polisi Kembali Dikejar
Pengejaran ternyata belum berhenti. Pelaku yang menggunakan perahu menyusuri sungai hingga kawasan Batu Teluk Seha. Di lokasi tersebut mereka menemukan Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopan.
Dalam rekonstruksi, Bripda Nopan diperagakan mengalami pembacokan berulang kali pada bagian kepala menggunakan parang.
Sementara Aiptu Sumaryanto dipukul menggunakan dayung sebanyak lima kali pada bagian kepala dan badan.
Adegan demi adegan memperlihatkan bagaimana penggerebekan narkoba berubah menjadi aksi pengejaran yang begitu brutal.
Polisi yang datang untuk melakukan penindakan justru harus berlari, berenang, bersembunyi, hingga bertahan hidup di tengah sungai.
Dalam salah satu adegan di Batu Teluk Seha, tersangka D alias I bahkan membantah dan tidak mengakui keterlibatannya sebagaimana peran yang diperagakan dalam rekonstruksi.
Polda Kalteng memastikan perkara tersebut akan ditangani secara profesional dan transparan. Setiap orang yang terbukti terlibat akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Rekonstruksi ini pun menjadi gambaran utuh bagaimana sebuah penggerebekan narkoba di Katingan berubah menjadi malam panjang penuh kekerasan: mobil dibakar, polisi diburu, sungai menjadi jalur pelarian, dan nyawa melayang.
Mau tau perkembang kabar setiap hari, saran kami ikuti juga saluran kami Penuturnews.id di :
WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb2eyrrL2AU50qx4Oe3h
Ikuti Kami di TikTok :
https://www.tiktok.com/@penuturnews.id?_t=ZS-8vbKXyGjUsT&_r=1
[Tr/Red]










Komentar ditutup.