PENUTURNEWS.ID – Kalau biasanya polisi identik dengan peluit, patroli, dan penegakan hukum, pemandangan berbeda terlihat di Desa Tanjung Riu, Kecamatan Kurun, Kabupaten Gunung Mas. Kali ini, Kapolres Gunung Mas AKBP Arum Sari Puspita Dewi, S.H., S.I.K., M.A., turun langsung ke lahan pertanian—bukan mengejar pelaku kejahatan, tetapi ikut memanen jagung.
Bukan jagung sembarangan. Dari lahan seluas 5 hektare milik Kelompok Tani (Poktan) Sari Bumi, program ketahanan pangan Kuartal III tersebut menghasilkan sekitar 20 ton jagung dalam bentuk tongkol, Rabu (19/8/2026).
Panen dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Kapolres bersama personel Polsek Kurun, unsur pertanian, penyuluh pertanian lapangan (PPL) Kementerian Pertanian, dan anggota Poktan Sari Bumi bahu-membahu memanen hasil pertanian yang menjadi bagian dari lahan binaan Polri.
Pemandangan ini sekaligus menunjukkan bahwa menjaga ketahanan pangan tidak melulu soal rapat dan tumpukan dokumen. Kadang, harus turun ke tanah, pegang tongkol jagung, dan berkeringat bersama petani.
Kapolres Gunung Mas mengatakan keterlibatan kepolisian merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan swasembada pangan, khususnya melalui komoditas jagung.
“Kami terus mendorong kerja sama yang baik dengan kelompok tani dan unsur pertanian. Panen ini menjadi bagian dari dukungan Polri terhadap program ketahanan pangan, sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan potensi pertanian yang ada di wilayah Kabupaten Gunung Mas,” ujar Arum Sari.
Di lahan tersebut, Polsek Kurun tidak hanya hadir sebagai aparat keamanan. Personel juga terlibat dalam pendampingan bersama kelompok tani. Dari sinilah komunikasi antara polisi dan masyarakat dibangun dengan cara yang sederhana: turun ke lapangan, melihat langsung pekerjaan petani, dan ikut merasakan bagaimana hasil pertanian dihasilkan.
Turut hadir Kapolsek Kurun Ipda Dhafi Kurnia Yudistira, S.Tr.K., Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Mas Aryantoni, S.St.Pi., M.Si., PPL Kementerian Pertanian, personel Polsek Kurun, serta anggota Poktan Sari Bumi.
Kehadiran Dinas Pertanian dan PPL Kementerian Pertanian memperlihatkan bahwa urusan pangan memang tidak bisa dikerjakan sendirian. Polisi punya peran, pemerintah punya program, penyuluh punya pendampingan, sementara petani menjadi ujung tombaknya.
Lima hektare lahan, 20 ton jagung. Angkanya memang sederhana, tetapi pesannya cukup besar: ketahanan pangan tidak tumbuh dari wacana, melainkan dari lahan yang ditanami, dirawat, kemudian dipanen.
Program jagung Kuartal III di wilayah hukum Polsek Kurun ini menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi antara Polri, pemerintah daerah, unsur pertanian, dan masyarakat.
Kapolres Gunung Mas pun diharapkan terus memperkuat sinergi dengan kelompok tani dan instansi terkait, sehingga lahan-lahan produktif di daerah dapat terus dikembangkan.
Sebab, kalau polisi bisa ikut menjaga keamanan sekaligus ikut mengawal ketahanan pangan, kenapa tidak?
Di Tanjung Riu, hari itu polisi tidak sedang menangkap pelaku. Polisi justru menangkap peluang—dan peluang itu tumbuh dari tanah, berubah menjadi tongkol jagung, lalu pulang sebagai 20 ton hasil panen.
Mau tau perkembang kabar setiap hari, saran kami ikuti juga saluran kami Penuturnews.id di :
WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb2eyrrL2AU50qx4Oe3h
Ikuti Kami di TikTok :
https://www.tiktok.com/@penuturnews.id?_t=ZS-8vbKXyGjUsT&_r=1
[Hms/Red]










Komentar ditutup.