PENUTURNEWS.ID – Cerita rakyat dari Kalimantan Tengah (Kalteng) sering dikaitkan dengan mistis karena mengandung unsur makhluk gaib, kejadian supranatural, dan kepercayaan masyarakat lokal, terhadap hal-hal di luar nalar. Banyak legenda, menceritakan tentang kekuatan luar biasa, ancaman gaib, dan dunia yang dihuni oleh makhluk-makhluk tidak kasat mata.
Seperti sebuah lagenda cerita yang pernah terjadi di Desa Mahuroi, Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalteng, ada sebuah kisah yang diceritakan dari orang tua jaman dulu sampai sekarang. Legenda ini, diceritakan langsung oleh Damai Dewal Singa Banjang, pada Senin (25/08/2025).

Damai Dewal, menuturkan, bahwa lagenda ini berawal dari kisah cinta antara Sahawung, seorang pemuda tampan dan sakti dari kayangan, dan Bulan, seorang gadis dara Dayak cantik.
Disitu lah, Sahawung turun ke dunia untuk melihat kecantikan Bulan yang tersohor di seluruh negeri. Setelah melihat Bulan, Sahawung langsung jatuh cinta dan melamarnya.
“Apapun syaratnya, aku akan memenuhinya,” kata Sahawung kepada keluarga Bulan. Singkat cerita, Mereka langsung menikah dengan pesta yang sangat meriah selama tujuh hari tujuh malam.
Dikatakan, Damai, beberapa bulan dan berganti tahun Sahawung dan Bulan hidup bahagia seperti manusia biasa, berladang, berburu, dan berkebun. Bulan hamil dan melahirkan seorang anak perempuan cantik bernama Muang. Sahawung dan Bulan sangat bahagia dengan kehadiran anak mereka.
Namun, katanya, suatu hari Muang sakit dan tidak bisa disembuhkan meskipun telah diobati oleh tabib. Sahawung berusaha untuk menghidupkan anaknya dengan pergi mengambil air kehidupan di lereng bukit raya. Sebelum berangkat, Sahawung berpesan kepada Bulan untuk tidak menangis dan tidak membiarkan air matanya mengenai tubuh Muang.
Akan tetapi karena sedih, ujar Damai, istrinya Bulan tidak bisa menahan air matanya dan menetes mengenai tubuh Muang. Ketika Sahawung kembali dengan air kehidupan, dia melihat air mata Bulan mengenai tubuh Muang dan berkata.
“Waduh, anak ini tidak bisa ditolong atau dihidupkan kembali karena engkau telah melanggar pantangan yang sudah ku beritahukan kepada mu,” kata Sahawung ditirukan Damai.
Lantas, anak mereka, kisah Damai, si Muang yang masih muda meninggal dunia dan dilakukan pemakaman seperti manusia biasa. Sahawung sangat sedih dan berkata kepada Bulan, “Kita berdua ini, dalam menjalani kehidupan banyak mengalami rintangan dan halangan. Aku merasa sedih yang berkepanjangan,” tutur Sahawung ditirukan.
Dimana, tuturnya, Sahawung kemudian memberitahu Bulan bahwa dia harus kembali ke alam kayangan karena mereka berbeda asal usul. “Aku akan pulang menuju alam kayangan, dan aku akan membuat sungai sebagai tanda cinta dan kasih sayangku padamu,” kata Sahawung.
Sehingga, kata dia, Sahawung memberitahu Bulan bahwa sungai itu akan menjadi pelindung dirinya dari berbagai macam hal yang ada di dunia ini. “Mandilah dalam sungai itu, maka engkau akan terhindar dari berbagai macam penyakit, iri hati, dengki, perbuatan, santet manusia yang ada di alam manusia ini,” kata Sahawung tiru Damai.
Pada hari yang ketujuh, tambah dia, Sahawung berpamitan kepada Bulan dan berangkat mengunakan kesaktiannya. Sahawung mengambil lawung dan melemparkannya ke atas langit, kemudian menghilang dalam sekejab. Bulan sangat sedih dan merindukan Sahawung.
Karena itu, ujarnya, Danum Tawah dalam Bahasa Dayak berarti air suci yang tidak berasa. Air ini diyakini memiliki khasiat yang banyak dan memiliki makna spiritual dan ritual bagi masyarakat Dayak. Mereka percaya bahwa air suci ini dapat membawa keselamatan bagi mereka yang mengunakan nya dengan hati yang suci.
Karena itu, sambungnya, masyarakat Dayak Ot Danum percaya bahwa air Danum Tawah memiliki beberapa khasiat, kata Damai, Apabila orang mandi disitu menjadi awet muda, menolak berbagai macam kesialan hidup, menarik rejeki, penangkal racun, penangkal santet, air ini tergantung niat dan keyakinan.
Menurut Damai, cerita ini memiliki beberapa pesan moral, menujukan tanggung jawab seorang suami kepada istrinya. Lalu, Sebaik baik dalam membina hubungan rumah tangga, pasti ada rintangan atau halangan yang dilalui.
“Bahwa didalam membina rumah tangga, sempurna menurut manusia, tetapi tidak bisa mengalah takdir yang diatur oleh Tuhan yang maha kuasa, dan bahwa kecantikan seorang wanita mengalah akal sehat manusia, sehingga seorang dewa pun terpesona,” imbuh dia.
Saran, ikuti juga saluran kami Penuturnews.id di
- WhatsApp:https://whatsapp.com/channel/0029Vb2eyrrL2AU50qx4Oe3h
- TikTok :https://www.tiktok.com/@penuturnews.id?_t=ZS-8vbKXyGjUsT&_r=1
[*/red]









Komentar ditutup.