Menu ✖

Internasional

Krisis Energi Global: Serangan di Timur Tengah Mengancam Pasokan Minyak Dunia

badge-check

Ilustrasi kapal tanker minyak di laut [Foto: Freepik] Perbesar

Ilustrasi kapal tanker minyak di laut [Foto: Freepik]

PENUTURNEWS.ID – Serangan terhadap kapal-kapal komersial di Timur Tengah telah memperburuk situasi keamanan maritim, hampir menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global. Kondisi ini mengguncang pasar energi dunia dan memaksa para produsen mencari rute alternatif untuk menyalurkan minyak ke berbagai negara, dilansir dari CNN, Rabu, 18 Maret 2026.

 

“Saudi Aramco telah mengalihkan pengiriman minyak melalui pipa menuju pelabuhan Yanbu di pesisir barat Arab Saudi,” kata juru bicara perusahaan tersebut. Data Kpler menunjukkan, volume pemuatan minyak di pelabuhan tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata tahun lalu.

 

Namun, jalur alternatif ini juga menghadapi ancaman baru. Iran menyatakan bahwa fasilitas militer Amerika Serikat di Laut Merah dapat menjadi target potensial. “Kapal induk USS Gerald R. Ford disebut sebagai ancaman, Iran memperingatkan akan menargetkan pusat logistik yang mendukung operasi tersebut,” kata seorang pejabat Iran.

 

Situasi di Laut Merah sendiri telah lama tidak stabil. Sejak 2023, kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut sebagai respons terhadap konflik Israel dan Hamas. Akibatnya, banyak perusahaan pelayaran mengalihkan rute mereka melalui Afrika Selatan, yang menyebabkan peningkatan waktu tempuh dan biaya operasional.

 

Arab Saudi memiliki pipa yang mampu mengangkut hingga 7 juta barel minyak per hari. Meski demikian, kapasitas tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan volume yang biasanya melewati Selat Hormuz. Jika gangguan juga terjadi di Laut Merah, maka pasokan minyak global dapat semakin tertekan.

 

Hal tersebut dapat berpotensi mendorong lonjakan harga minyak secara signifikan. Para analis memperkirakan harga minyak mentah Brent crude dapat melonjak hingga 130-150 dolar AS (Rp2,2-2,5 juta) per barel jika situasi memburuk. Kenaikan harga ini berisiko memicu dampak luas terhadap ekonomi global, termasuk meningkatnya biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok.

 

Sementara itu, kapal kontainer yang mengangkut barang sebagian besar telah menghindari Laut Merah sejak akhir 2023.

Saran kita, ikuti juga saluran kami Penuturnews.id di;

 

 

[rri/red]

 

 

Facebook Comments Box

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Jaya S. Monong : Jabatan Kades Bukan Kekuasaan, tetapi Amanah Melayani Rakyat

28 Okt 2026 - 09:15 WIB

Jaya S. Monong : Jabatan Kades Bukan Kekuasaan, tetapi Amanah Melayani Rakyat

Menkes Pakai Oksigen di Palangka Raya, Publik Menanti Jawaban: Mana Aksi Nyata Kemenkes untuk Korban Asap Karhutla?

26 Okt 2026 - 03:54 WIB

Menkes Pakai Oksigen di Palangka Raya, Publik Menanti Jawaban: Mana Aksi Nyata Kemenkes untuk Korban Asap Karhutla?

Kompleks Pasar Tumbang Sanamang Terbakar Termasuk Masjid, Rumah Warga dan Gedung Walet Ikut Hangus

23 Okt 2026 - 07:18 WIB

Kompleks Pasar Tumbang Sanamang Terbakar Termasuk Masjid, Rumah Warga dan Gedung Walet Ikut Hangus

Geger! Mayat Pria Membusuk Ditemukan di Kebun Sawit Katingan, Ada Luka di Lengan

23 Okt 2026 - 06:56 WIB

Geger! Mayat Pria Membusuk Ditemukan di Kebun Sawit Katingan, Ada Luka di Lengan

Kejar Target Desa Sehat, Camat Kahut Wano Siapkan Tim Kecamatan Turun Langsung ke Desa

23 Okt 2026 - 06:41 WIB

Kejar Target Desa Sehat, Camat Kahut Wano Siapkan Tim Kecamatan Turun Langsung ke Desa
Trending di Eksekutif