PENUTURNEWS.ID – Gunung Mas mulai seperti diselimuti tirai abu-abu. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dalam beberapa hari terakhir dirasakan semakin tebal di sejumlah wilayah. Udara yang semestinya menjadi kebutuhan sehari-hari kini justru membuat warga harus ekstra waspada.
Anggota DPRD Kabupaten Gunung Mas, Neni Yuliani, mengaku mulai merasakan dampak kabut asap tersebut. Ia meminta masyarakat tidak menganggap remeh kondisi itu, terutama warga yang memiliki anak balita serta masyarakat yang rentan mengalami gangguan pernapasan.
Menurut Neni, asap Karhutla bukan sekadar persoalan jarak pandang yang terganggu. Partikel asap yang terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan dan memperburuk kondisi orang yang sebelumnya memiliki masalah pernapasan.
“Dampak dari asap ini, pertama masyarakat akan mudah terserang penyakit ISPA atau gangguan pernapasan. Bagi penderita asma akan mudah sekali kambuh apabila menghirup kabut asap,” ujar Neni Yuliani, Jumat (7/8/2026).
Ia mengatakan, kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih adalah anak-anak, khususnya balita. Karena itu, orang tua diminta tidak menganggap aktivitas di luar rumah sebagai hal biasa ketika kabut asap sedang pekat.
Jika memang tidak ada keperluan mendesak, Neni menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Sementara bagi warga yang harus bepergian, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan.
“Misalnya selalu menggunakan masker kalau ke luar rumah. Tapi akan lebih bagus mengurangi aktivitas ke luar rumah saat kabut asap. Kemudian perbanyak minum air putih dan buah-buahan,” sarannya.
Menurutnya, dampak kabut asap juga tidak berhenti pada persoalan pernapasan. Warga dapat mengalami mata pedih ketika berada di luar rumah, kepala terasa pusing, tubuh gerah, hingga muncul rasa tidak nyaman akibat kualitas udara yang memburuk.
Masalahnya pun bisa merembet ke mana-mana. Kabut asap yang pekat berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan sekolah, perekonomian, hingga transportasi. Jika kualitas udara memburuk dan jarak pandang menurun, aktivitas penerbangan juga dapat ikut terdampak.
“Dampak yang lain oleh asap ini, sekolah akan diliburkan, juga ekonomi memburuk, serta penerbangan di bandara juga akan dibatasi. Karena kualitas udara memburuk dan jarak pandang yang terganggu,” jelasnya.
Karena itu, Neni meminta pemerintah tidak menunggu kondisi semakin parah untuk bergerak. Imbauan kepada masyarakat perlu diperkuat, sementara upaya penanganan Karhutla harus dilakukan secepat mungkin agar titik api tidak meluas dan asap tidak semakin mengganggu kehidupan warga.
Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Mas, Waltiana, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan perkembangan kasus ISPA yang berkaitan dengan kabut asap. Hingga kini, laporan dari seluruh Puskesmas dan rumah sakit belum diterima secara lengkap.
“Indikator kami memberikan imbauan dan pesan yaitu pertama data kasus yang ditemukan untuk ISPA belum semuanya diterima. Kemudian data kualitas udara kita memburuk atau tidak belum bisa kita pastikan. Namun kami akan selalu berkoordinasi dengan instansi terkait hal ini,” ujar Waltiana.
Dinkes Gumas, lanjutnya, akan terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat maupun perkembangan kualitas udara.
Sementara bagi masyarakat, pesan sederhananya: ketika asap mulai tebal, jangan sok kuat. Kurangi aktivitas di luar rumah, gunakan masker bila harus bepergian, dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan pernapasan yang mengkhawatirkan.
Mau tau perkembang kabar setiap hari, saran kami ikuti juga saluran kami Penuturnews.id di :
WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb2eyrrL2AU50qx4Oe3h
Ikuti Kami di TikTok :
https://www.tiktok.com/@penuturnews.id?_t=ZS-8vbKXyGjUsT&_r=1
[Klk/Red]







Komentar ditutup.