PENUTURNEWS.ID – Pertamina menyebut stok bahan bakar minyak (BBM) aman untuk tiga hari ke depan. Namun di Kota Palangka Raya, cerita di lapangan justru seperti punya bab sendiri: Pertalite masih diburu, antrean mengular, sementara pasokan yang diterima sejumlah SPBU ternyata tak selalu sesuai dengan jumlah yang diminta.
Jadi, kalau stok disebut aman, lalu kenapa antreannya masih panjang?
Pertanyaan itu kini mulai mengarah bukan hanya kepada ketersediaan BBM, tetapi juga bagaimana BBM tersebut didistribusikan dari depo hingga sampai ke SPBU.
Temuan itu mencuat setelah Kepala Satpol PP Kota Palangka Raya, Berlianto, turun langsung melakukan pemantauan ke sejumlah SPBU, Kamis (13/8/2026).
Dari hasil pengecekan tersebut, Satpol PP menemukan adanya perbedaan antara volume Pertalite yang diajukan SPBU dengan BBM yang diterima.
Ada SPBU yang mengajukan permintaan 24 kiloliter (KL), tetapi hanya menerima 16 KL. Di lokasi lain, permintaan mencapai 16 KL, namun pasokan yang diterima hanya 8 KL.
“ Ada permintaan dari SPBU untuk kebutuhan BBM sebanyak 24 KL, tetapi hanya diberikan 16 KL. Ada juga yang meminta 16 KL, tetapi hanya diberikan 8 KL. Sistemnya, mereka tetap melakukan deposit terlebih dahulu di sana. Untuk SPBU, itu yang akan kami minta penjelasan juga dengan teman-teman Pertamina,” ujar Berlianto.
Dengan kata lain, uangnya sudah masuk, pesanannya ada, tetapi volumenya belum tentu ikut lengkap.
Berlianto menegaskan, temuan tersebut bukan hasil rapat di ruangan ber-AC atau sekadar menerima laporan dari orang lain. Ia mengaku mendapatkan informasi itu langsung ketika turun ke lapangan dan mendatangi sejumlah SPBU.
“Jadi informasi di atas saya dapatkan langsung dari lapangan saat sidak ke SPBU tadi siang. Bukan dari rapat. Ada beberapa SPBU yang saya datangi,” ungkapnya.
Stok Aman, Tapi Kenapa Pasokan Tak Penuh?
Di sinilah persoalan BBM Palangka Raya mulai menarik.
Di satu sisi, Pertamina menyatakan stok BBM dalam kondisi aman. Di sisi lain, Satpol PP menemukan adanya SPBU yang menerima pasokan lebih sedikit dibandingkan permintaan.
Kondisi tersebut membuat persoalan antrean Pertalite tidak lagi sekadar cerita tentang masyarakat yang rela menghabiskan waktu di SPBU.
Kini muncul pertanyaan yang lebih besar: di titik mana pasokan BBM mulai berkurang?
Apakah persoalannya terletak pada pengiriman dari depo? Apakah kapasitas distribusi terbatas? Atau ada mekanisme lain yang membuat volume BBM yang sampai di SPBU tidak sesuai dengan permintaan?
Berlianto meminta persoalan tersebut dijelaskan secara terbuka oleh Pertamina.
“Kalau memang stok aman, berarti masalahnya adalah masalah pengiriman. Yang kedua, apakah selain pengiriman itu juga ada masalah pengurangan? Apakah ada pengurangan dari depo ke SPBU? Nah, itu yang akan kita tanyakan lagi kepada teman-teman Pertamina,” katanya.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena antrean panjang di SPBU pada akhirnya bukan hanya membuat pengendara kehilangan waktu. Kondisi itu juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan distribusi ekonomi di Kota Palangka Raya.
Pertalite Makin Diburu
Di tengah persoalan distribusi tersebut, permintaan terhadap Pertalite juga disebut mengalami peningkatan.
Berlianto mengatakan kebutuhan BBM meningkat, salah satunya akibat adanya pemadaman listrik. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat membutuhkan BBM lebih banyak untuk mendukung aktivitas sehari-hari.
Faktor lainnya adalah pergeseran konsumen dari Pertamax ke Pertalite.
Perbedaan harga membuat sebagian masyarakat yang sebelumnya menggunakan Pertamax kini memilih Pertalite sebagai pilihan yang dianggap lebih ramah terhadap isi dompet.
Alhasil, ketika permintaan meningkat sementara pasokan yang diterima sejumlah SPBU tidak sesuai pengajuan, antrean pun semakin mudah mengular.
Persoalannya kemudian menjadi seperti lingkaran: permintaan naik, pasokan dipertanyakan, antrean memanjang, dan masyarakat kembali bertanya—sebenarnya BBM aman atau hanya aman di atas kertas?
Satpol PP Kota Palangka Raya kini akan meminta penjelasan Pertamina mengenai mekanisme distribusi tersebut, terutama terkait perbedaan antara permintaan SPBU dan volume BBM yang diterima.
Sebab, jika stok memang tersedia, masyarakat tentu berharap BBM tersebut tidak berhenti sebagai angka dalam laporan, tetapi benar-benar sampai ke SPBU dan bisa dibeli tanpa harus ikut lomba antre berjam-jam.
Mau tau perkembang kabar setiap hari, saran kami ikuti juga saluran kami Penuturnews.id di :
WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb2eyrrL2AU50qx4Oe3h
Ikuti Kami di TikTok :
https://www.tiktok.com/@penuturnews.id?_t=ZS-8vbKXyGjUsT&_r=1
[Plk/Red]








Komentar ditutup.