PENUTURNEWS.ID – Ada yang datang membawa selang dan alat pelindung diri. Ada pula yang datang membawa duka. Di tengah perang melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum sepenuhnya reda, kabar gugurnya Akhmad Rizani (54), Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK), ternyata tak berhenti sebagai catatan di lapangan.
Kabar itu sampai ke meja pemerintah pusat, bahkan mengantarkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke rumah keluarga almarhum di Jalan Mendawai VI, Kota Palangka Raya, Kamis (10/9/2026).
Wapres datang bersama Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran. Bukan untuk melihat kobaran api, melainkan menemui keluarga seorang lelaki yang justru kehilangan nyawa saat berusaha membuat api berhenti.
Di rumah duka itu, Gibran menyampaikan belasungkawa sekaligus penghormatan atas pengabdian Akhmad Rizani yang gugur ketika berada di garis depan penanganan karhutla.
“Saya menyampaikan duka cita mendalam, saya mohon maaf atas kejadian ini dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas jasa-jasa beliau dalam penanganan karhutla,” ungkap Wapres.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada cerita yang tidak sederhana: ketika sebagian orang memilih menjauh dari asap dan panas, para petugas justru bergerak mendekati sumber bahaya.
Akhmad Rizani adalah salah satunya. Ia bukan sekadar nama dalam daftar petugas. Ia menjadi gambaran betapa perang melawan karhutla bukan hanya soal berapa hektare lahan yang terbakar atau berapa titik api yang berhasil dipadamkan. Ada manusia yang mempertaruhkan keselamatan agar api tidak bergerak lebih jauh.
Dan kali ini, api meninggalkan kehilangan yang jauh lebih dalam daripada sekadar lahan terbakar.
Usai menemui keluarga almarhum, Gibran berdialog dengan para petugas pemadam karhutla yang masih bertugas. Kepada mereka, Wapres menyampaikan apresiasi sekaligus pesan yang terdengar sederhana, tetapi sangat penting: jangan sampai tugas memadamkan api justru membuat petugas menjadi korban berikutnya.
“Terima kasih atas kerja keras Bapak Ibu dalam memadamkan titik api mulai dari awal terjadinya kebakaran. Bapak Ibu adalah ujung tombak pelaksana di lapangan,” tuturnya.
Gibran juga mengingatkan agar keselamatan dan kesehatan tidak kalah penting dari keberhasilan menjinakkan api. Penggunaan alat pelindung diri (APD) sesuai prosedur menjadi salah satu penekanan untuk mengurangi risiko saat bertugas.
“Mohon tetap jaga keselamatan dalam bekerja. Gunakan APD sesuai prosedur dan sebisa mungkin menjaga kesehatan,” tegasnya.
Pesannya jelas: api boleh dikejar, tetapi nyawa jangan dipertaruhkan sembarangan. Sebab karhutla bukan sekadar urusan memadamkan bara. Ada warga yang menghirup asap, ada kelompok rentan yang harus dilindungi, ada satwa yang kehilangan habitat, dan ada lingkungan yang ikut membayar mahal ketika api terus merambat.
Karena itu, penanganan karhutla menurut Gibran tidak boleh berhenti pada urusan siapa yang paling cepat memadamkan api. Keselamatan masyarakat, perlindungan kelompok rentan, hingga keberlangsungan satwa liar dan habitatnya juga harus menjadi bagian dari perjuangan.
Kunjungan Wapres ke rumah Akhmad Rizani pun membawa pesan yang cukup dalam: di balik angka titik api dan luas lahan terbakar, ada manusia yang bekerja di tengah panas, asap, dan risiko.
Dan ketika salah satu dari mereka gugur, negara tidak boleh hanya menghitung kerugiannya. Negara juga harus mengingat siapa yang berdiri di depan api. Akhmad Rizani telah pergi. Namun perjuangan para petugas karhutla belum selesai. Api masih harus dipadamkan. Dan mereka yang memadamkannya harus pulang dengan selamat.
Mau tau perkembang kabar setiap hari, saran kami ikuti juga saluran kami Penuturnews.id di :
WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb2eyrrL2AU50qx4Oe3h
Ikuti Kami di TikTok :
https://www.tiktok.com/@penuturnews.id?_t=ZS-8vbKXyGjUsT&_r=1
[Fi/Red]










Komentar ditutup.